Cipto Roso Wiyanto Pembunuh Sopir Taksi Online Terancam di Hukum Mati

Cipto Roso Wiyanto Pembunuh Sopir Taksi Online Terancam di Hukum Mati
Surabaya - Cipto Roso Wiyanto menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (3/8/2017). Sidang yang dipimpin hakim Hariyanto ini mengagendakan pembacaan dakwaan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Agung Rohaniawan.

Oleh JPU Agung, Cipto didakwa melanggar pasal 340 KUHP, 338 KUHP dan 365 ayat (3) KUHP, Juncto Pasal 55 KUHP. Atas surat dakwaan tersebut, Cipto melalui penasehat hukumnya Arif Budi Prasetija mengaku keberatan. Dia akan melakukan perlawanan dan dibacakan pada persidangan berikutnya. "Kami ajukan eksepsi majelis hakim,"ujar Arif.

Usai persidangan, JPU Agung Rohaniawan menjelaskan, perkara pembunuhan tersebut dilakukan oleh dua orang. Namun salah satu pelaku adalah oknum TNI AL yang berdinas di KRI Slamet Riyadi.

"Untuk perkaranya Prada Khoirul M Fajar bukan kami yang menangani. Karena tersangka adalah seorang militer, maka kasusnya juga ditangani sesuai militer," terang jaksa Agung saat dikonfirmasi usai persidangan.

Kasus pembunuhan itu berawal saat kedua pelaku berangkat bersama dari Kediri, Rabu (22/3/2017) sekitar pukul 11.00 WIB. Saat tiba di Terminal Bungurasih Sidoarjo sekitar pukul 14.00 WIB, keduanya memesan taksi online Grab melalui HP (hand phone) milik Khoirul.

Setelah mendapatkan taksi sekitar pukul 14.30 WIB, mereka meminta diantar ke Hotel Red Planet Jl Arjuno Surabaya. Sesampainya di hotel, keduanya mengatur rencana merampas mobil milik sopir taksi online tersebut. Selanjutnya, Sekitar pukul 19.30 WIB, Khoirul keluar hotel membeli pisau lipat. Sedangkan, Cipto menunggu di kamar.

Pada Pukul 20.30 WIB, oknum TNI AL itu kembali ke hotel dan memberikan pisau lipat yang baru dibelinya. Kemudian sekitar pukul 21.30 WIB, Cipto ke Taman Bungkul Surabaya memesan Go-Jek yang dipesan melalui HP Khoirul.

Beberapa saat kemudian, Khoirul menyusul Cipto ke Taman Bungkul menaiki taksi konvensional. Keduanya lalu pergi ke sebuah kafe di daerah Bungurasih untuk pesta minuman keras (miras).

Dalam kafe itu para pelaku pembunuhan merencanakan kembali perampasan mobil taksi online Grab. Sekitar pukul 02.00 WIB, keduanya keluar dari kafe dengan niat yang sudah bulat. Khoirul lalu memesan taksi online Grab dengan tujuan Hotel Red Planet.

Sekitar pukul 02.10 WIB, datanglah mobil taksi online Grab jenis Daihatsu Xenia hitam. Namun, di tengah perjalanan keduanya mengurungkan niat membunuh sopir dan merampas mobil karena kendaraan saat itu dianggap jelek.

Setelah sampai depan Hotel Red Planet sekitar pukul 02.30, Khoirul kembali memesan taksi online Grab, kali ini dengan tujuan kantor Imigrasi klas I Tanjung Perak. Sekitar pukul 03.00 WIB mobil taksi online Grab jenis Daihatsu Xenia coklat L 1620 MS yang disopiri Denny Arisandi (korban) pun datang.

Rencana pembunuhan dilakukan, Cipto mengalihkan perhatian korban dengan cara terus mengajaknya mengobrol. Sedangkan, Khoirul mengarahkan perjalanan hingga menuju daerah Tanjung Perak. Sekitar pukul 03.10 WIB, Khoirul meminta korban untuk menurunkan kecepatan.

Saat itulah kedua pelaku yang sudah menyiapkan pisau melancarkan aksinya dengan menusuk korban berkali-kali secara bersamaan hingga total 46 tusukan di dada dan perut korban. Akibat tusukan tersebut Denny tewas di lokasi kejadian.

Khoirul lantas mengambil alih kemudi sedangkan Cipto memindahkan jasad manajer ekspedisi J&T itu ke bagian tengah mobil. 

Sekitar pukul 03.30 WIB, Khoirul berputar-putar mencari tempat membuang mayat korban termasuk mencari lokasi di Armatim. Mereka lalu sepakat membuang jasad korban di Jl Larangan (depan makam), Kenjeran Park Surabaya.



-  INILAH  -


Sign out
Baca Juga ×
Diberdayakan oleh Blogger.